Laman

Minggu, 20 Desember 2015

Beriman kepada kitab-kitab Allah


 

Beriman Kepada Kitab-Kitab Allah
I. Definisi
Secara bahasa, "kutub" adalah bentuk jamak dari, "kitab". Sedangkan kitab adalah masdar yang digunakan untuk menyatakan sesuatu yang ditulisi di dalamnya. Ia pada awalnya adalah nama shahifah (lembaran) bersama tulisan yang ada di dalamnya.
Sedangkan menurut syari'at, "kutub" adalah kalam Allah yang diwahyukan kepada rasul-Nya agar mereka menyampaikannya kepada manusia dan yang membacanya bernilai ibadah.
II. Beriman Kepada Kitab-Kitab
Beriman kepada kitab-kitab Allah adalah salah satu rukun iman. Maksudnya yaitu membenarkan dengan penuh keyakinan bahwa Allah SWT mempunyai kitab-kitab yang diturunkan kepada hamba-hamba-Nya dengan kebenaran yang nyata dan petunjuk yang jelas. Dan bahwasanya ia adalah kalam Allah yang Ia firmankan dengan sebenarnya, seperti apa yang Ia kehendaki dan menurut apa yang Ia ingini.
Allah berfirman dalam Surah An-Nahl : 2 yang artinya :
"Dia menurunkan para malaikat dengan (membawa) wahyu dengan perintah-Nya kepada siapa yang Ia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya".
Iman kepada-Nya adalah wajib, secara ijmal (global) dalam hal yang di-ijmal-kan dan secara tafshil (rinci) dalam hal yang dirincikan.
Dalil-dalil atas Kewajiban Beriman Kepada Kitab-kitab
Pertama : Dalil-dalil beriman kepadanya secara umum
1. Firman Allah dalam Surah Al-Baqarah : 136 yang artinya :
"Katakanlah (hai orang-orang mukmin), 'Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami, dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishak, Ya'qub dan Isa serta apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Tuhannya. Kami tidak membeda-bedakan seorang pun di antara mereka dan kami hanya patuh kepada-Nya'".
Segi istidlal-nya adalah : Allah SWT memerintahkan orang-orang mukmin agar beriman kepada-Nya dan kepada apa yang telah Ia turunkan kepada mereka melalui nabi mereka, Muhammad SAW yaitu Al-Qur'an, dan agar beriman kepada apa yang telah diturunkan kepada para nabi dari Tuhan mereka tanpa membeda-bedakan antara satu dengan yang lain, karena tunduk kepada Allah serta membenarkan apa yang diberitakan-Nya.
2. Firman Allah SWT dalam Surah Al-Baqarah : 285 yang artinya :
"Rasul telah beriman kepada Al-Qur'an yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan), 'Kami tidak membeda-bedakan antara seorang pun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya', dan mereka mengatakan, 'Ampunilah kami ya Tuhan kami dan kepada Engkau-lah tempat kembali".
Ayat ini menjelaskan sifat iman Rasul SAW dan iman para mukminin serta apa yang diperintahkan kepada mereka berupa iman kepada Allah, para malaikat, kitab-kitab dan para rasul, tanpa membeda-bedakan. Sehingga kufur kepada sebagian berarti kufur kepada mereka semuanya.
3. Firman Allah SWT dalam Surah An-Nisa' : 136 yang artinya :
"Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada rasul-Nya, serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya. Barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya dan hari Kemudian maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya".
Segi istidlal-nya adalah : Allah SWT memerintahkan manusia beriman kepada-Nya, kepada Rasul-Nya, dan kepada kitab-Nya yang diturunkan kepada Rasulullah SAW yakni Al-Qur'an, juga kitab-kitab yang diturunkan sebelum Al-Qur'an. Kemudian Allah menyamakan kufur kepada malaikat, kitab-kitab, para rasul dan Hari Akhir dengan kufur kepada-Nya.
4. Sabda Rasulullah SAW dalam hadits Jibril as tentang iman :
"Yaitu hendaklah engkau beriman kepada Allah, malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya, Hari Akhir dan beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk". (HR. Al-Bukhari, I/19 - 20 dan Muslim, II/37).
Maka Rasulullah SAW menjadikan iman kepada kitab-kitab Allah sebagai salah satu rukun iman.
Kedua : Wajib beriman kepada kitab-kitab secara rinci
Kita wajib mengimani secara rinci kitab-kitab yang sudah disebutkan namanya oleh Allah, yakni Al-Qur'an dan kitab-kitab yang lain, yaitu :
a. Shuhuf Ibrahim dan Musa. Allah berfirman dalam Surah An-Najm : 36 - 37 yang artinya :
"Ataukah belum diberitakan kepadanya apa yang ada dalam lembaran-lembaran Musa? Dan lembaran-lembaran Ibrahim yang selalu menyempurnakan janji?".
Dan dalam Surah Al-A'la : 18 - 19 yang artinya :
"Sesungguhnya ini benar-benar terdapat dalam shuhuf (lembaran-lembaran) yang dahulu (yaitu) shuhuf Ibrahim dan Musa".
b. Taurat, yaitu kitab yang diturunkan Allah kepada Nabi Musa as. Allah berfirman dalam Surah Al-Maidah : 44 yang artinya :
"Sesungguhnya Kami telah menurunkan kitab Taurat yang di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi)".
Dan dalam Surah Al-Imran : 2 - 4 yang artinya :
"Allah, tidak ada sembahan yang haq melainkan Dia, Yang hidup kekal lagi senantiasa berdiri sendiri. Dia menurunkan Al-Kitab (Al-Qur'an) kepadamu dengan sebenarnya, membenarkan kita yang telah diturunkan sebelumnya dan menurunkan Taurat dan Injil, sebelum (Al-Qur'an), menjadikan petunjuk bagi manusia, dan Dia menurunkan Al-Furqan. Sesungguhnya orang-orang yang kafir terhadap ayat-ayat Allah akan memperoleh siksa yang berat, dan Allah Maha perkasa lagi mempunyai balasan (siksa)".
c. Zabur, yaitu kitab yang Allah turunkan kepada Nabi Daud as. Allah berfirman dalam Surah An-Nisa' : 163 yang artinya :
"... dan Kami berikan Zabur kepada Daud".
d. Injil, yaitu kitab Allah yang diturunkan kepada Nabi Isa as. Allah berfirman dalam Surah Al-Maidah : 46 yang artinya :
"Dan Kami iringkan jejak mereka (nabi-nabi Bani Israil) dengan Isa putera Maryam, membenarkan kitab yang sebelumnya, yaitu, Taurat. Dan Kami telah memberikan kepadanya kitab Injil sedang di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi) dan membenarkan kitab yang sebelumnya, yaitu kitab Taurat. Dan menjadi petunjuk serta pengajaran untuk orang-orang yang bertakwa".
Beriman kepada kitab-kitab yang telah Allah sebutkan di dalam Al-Qur'an adalah wajib. Yakni beriman bahwa masing-masing adalah kitab Allah yang di dalamnya terdapat nur dan hidayah yang Dia turunkan kepada para rasul yang telah Dia sebutkan. Semuanya, sebagaimana Al-Qur'an mengajak kepada pengesaan Allah dalam ibadah. Semua kitab itu sama dalam hal ushul sekalipun berlainan dalam syariatnya.
Allah berfirman dalam Surah An-Nahl : 36 yang artinya :
"Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan), 'Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah thaghut itu ... ".
Dan dalam Surah Al-Anbiya' : 25 yang artinya :
"Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum kamu, melainkan Kami mewahyukan kepadanya, 'Bahwasanya tidak ada sesembahan yang haq melainkan Aku, maka sembahlah olehmu, sekalian akan Aku".
Al-Qur'an menjelaskan bahwa semua rasul mengajak kaumnya kepada tauhid Allah SWT menceritakan kepada kita ucapan mereka seperti dalam Surah Al-A'raf : 65, 75, dan 85 yang artinya :
" ... sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada sesembahan yang haq bagimu selain dari-Nya".
Rasulullah SAW bersabda :
"Para nabi itu adalah saudara seayah, ibu mereka berlainan, tetapi dien mereka adalah satu". (HR. Muslim IV/1857).
Ketiga : Kitab-kitab yang ada pada ahli kitab
Sesungguhnya apa yang ada di tangan ahli kitab yang mereka namakan sebagai kitab Taurat dan Injil dapat dipastikan bahwa ia termasuk hal-hal yang tidak benar penisbatannya kepada para nabi Allah. Maka tidak bisa dikatakan bahwa Taurat yang ada sekarang adalah Taurat yang dahulu diturunkan kepada Nabi Musa as. Juga Injil yang sekarang bukanlah Injil yang diturunkan kepada Nabi Isa as. Jadi keduanya bukanlah kedua kitab yang kita diperintahkan untuk mengimaninya secara rinci. Dan tidak benar mengimani sesutau yang ada dalam keduanya sebagai kalam Allah, kecuali yang ada dalam Al-Qur'an lalu dinisbatkan kepada keduanya.
Kedua kita tersebut telah di-nasakh (dicabut masa berlakunya) dan diganti oleh Al-Qur'an. Allah menyebutkan terjadi pengubahan dan pemalsuan terhadap keduanya di lebih dari satu tempat dalam Al-Qur'an.
Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Baqarah : 75 yang artinya :
"Apakah kamu masih mengharapkan mereka akan percaya kepadamu, padahal segolongan dari mereka mendengar firman Allah, lalu mereka mengubahnya setelah memahaminya, sedang mereka mengetahui".
Dan dalam Surah Al-Maidah : 13 - 15 yang artinya :
"(Tetapi) karena mereka melanggar janjinya, Kami kutuk mereka, dan Kami jadikan hati mereka keras membatu. Mereka suka mengubah perkataan (Allah) dari tempat-tempatnya, dan mereka (sengaja) melupakan sebagian dari apa yang mereka telah diperingatkan dengannya, dan kamu (Muhammad) senantiasa akan melihat kekhianatan dari mereka kecuali sedikit di antara mereka (yang tidak berkhianat), maka maafkanlah mereka dan biarkanlah mereka, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik. Dan di antara orang-orang yang mengatakan, 'Sesungguhnya kami ini orang-orang Nashrani', ada yang telah Kami ambil perjanjian mereka, tetapi (mereka) sengaja melupakan sebahagian dari apa yang mereka telah diberikan peringatan dengannya, maka Kami timbulkan di antara mereka permusuhan dan kebencian sampai hari Kiamat. Dan kelak Allah akan memberikan kepada mereka apa yang selalu mereka kerjakan. Hai ahli Kitab, sesungguhnya telah datang kepadamu rasul Kami, menjelaskan kepadamu banyak dari isi Al-Kitab yang kamu sembunyikan, dan banyak (pula yang ) dibiarkannya".
Di antara bentuk pengubahan yang dilakukan ahli kitab adalah penisbatan anak kepada Allah. Mahasuci Allah dari yang demikian, mereka mengatakan, seperti dalam Surah At-Taubah : 39 yang artinya :
"Orang-orang Yahudi berkata; 'Uzair itu putera Allah'. Demikian itulah ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Dilaknati Allah-lah mereka, bagaimana mereka sampai berpaling".
Begitu pula penuhanan orang-orang Nashrani terhadap Nabi Isa as serta perkataan mereka bahwa Allah adalah salah satu oknum dari tiga unsur (atau yang lebih dikenal dengan kepercayaan "trinitas").
Allah SWT dalam Surah Al-Maidah : 72 - 73 yang artinya :
"Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata; 'Sesungguhnya Allah ialah Al-Masih putera Maryam', padahal Al-Masih (sendiri) berkata; 'Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu'. Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadamu Surga dan tempatnya adalah Neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zhalim itu seorang penolong pun. Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan; 'Bahwasanya Allah salah seorang dari yang tiga', padahal sekali-kali tidak ada sesembahan selain dari Allah Yang Mahaesa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir di antara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih".
Allah menjelaskan bahwa mereka telah mengubah firman-Nya. Mereka melalaikan peringatan-peringatan Allah serta menisbatkan kepada-Nya apa yang Allah Mahasuci dan bersih daripadanya. Mereka menuhankan yang lain-Nya bersama-Nya, dan berbagai hal lain yang mereka susupkan ke dalam kitab-kitab mereka. Dengan demikian tidak sah dan tidak benar penisbatan kitab-kitab ini kepada Allah.
Di samping itu ada beberapa hal yang lebih menguatkan ketidakbenaran penisbatan ini kepada Allah -di samping apa yang dinyatakan dalam Al-Qur'an- yaitu antara lain :
a.       Sesungguhnya apa yang ada di tangan ahli kitab yang mereka yakini sebagai kitab suci adalah bukan nuskhah (naskah) yang asli, akan tetapi terjemahannya.
b.       Bahwa kitab-kitab itu telah dicampuri dengan perkataan para mufassir dan para muarrikh (ahli sejarah), juga orang-orang yang mengambil kesimpulan hukum dan sejenisnya.
c.        Tidak benar penisbatannya kepada rasul, karena tidak mempunyai sanad yang dapat dipercaya (dipertanggungjawabkan). Taurat ditulis sesudah Nabi Musa as berselang beberapa abad. Adapun Injil-injil yang ada, semuanya dinisbatkan kepada pengarang atau penulisnya, lagi pula telah dipilih dari Injil-injil yang bermacam-macam.
d.       Bermacam-macamnya naskah serta kontradiksi yang ada di dalamnya menunjukkan secara yakin atas perubahan dan pemalsuannya.
e.        Injil-injil itu berisi aqidah-aqidah yang rusak dalam menggambarkan Sang Pencipta dan menyifati-Nya dengan sifat-sifat kekurangan. Begitu pula menyifati para nabi dengan sifat-sifat kotor. Karena itu orang Islam wajib meyakini bahwa kitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru bukanlah kitab yang diturunkan Allah kepada rasul-Nya, bahkan kitab-kitab itu adalah karangan mereka sendiri. Maka kita tidak membenarkan sesuatu darinya kecuali apa yang dibenarkan oleh Al-Qur'an yang mulia dan As-Sunnah yang disucikan. Dan kita mendustakan apa yang didustakan oleh Al-Qur'an dan As-Sunnah. Kita tidak berkomentar tentang sesuatu yang tidak dibenarkan atau didustakan oleh Al-Qur'an, karena ia mengandung kemungkinan benar atau dusta. Wallahu a'lam !
Bersambung ...


Selasa, 15 Desember 2015

Larangan Berhubungan dengan Jin

LARANGAN BERHUBUNGAN DENGAN JIN
Jin adalah salah satu makhluk ghaib yang telah diciptakan Allah swt untuk beribadah kepada-Nya.
Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. (Adz-dzariyat: 56).
Sebagaimana malaikat, kita tidak dapat mengetahui informasi tentang jin serta alam ghaib lainnya kecuali melalui khabar shadiq (riwayat & informasi yang shahih) dari Rasulullah saw baik melalui Al-Quran maupun Hadits beliau yang shahih. Alasan nya adalah karena kita tidak dapat berhubungan secara fisik dengan alam ghaib dengan hubungan yang melahirkan informasi yang meyakinkan atau pasti.
Katakanlah: “tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah”, dan mereka tidak mengetahui bila (kapan) mereka akan dibangkitkan. (An-Naml: 65)
Dia adalah Tuhan yang mengetahui yang ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorang pun tentang yang ghaib itu. Kecuali kepada Rasul yang diridhai-Nya, maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya. Supaya Dia mengetahui, bahwa sesungguhnya rasul-rasul itu telah menyampaikan risalah-risalah Tuhannya, sedang (sebenarnya) ilmu-Nya meliputi apa yang ada pada mereka, dan Dia menghitung segala sesuatu satu persatu. (Al-Jin: 26-28).
Manusia diperintahkan oleh Allah swt untuk melakukan muamalah (pergaulan) dengan sesama manusia, karena tujuan hubungan sosial adalah untuk melahirkan ketenangan hati, kerja sama yang baik, saling percaya, saling menyayangi dan saling memberi. Semua itu dapat berlangsung dan terwujud dengan baik, karena seorang manusia dapat mendengarkan pembicaraan saudaranya, dapat melihat sosok tubuhnya, berjabatan tangan dengannya, melihatnya gembira sehingga dapat merasakan kegembiraan nya, dan melihatnya bersedih sehingga bisa merasakan kesedihannya.
Allah swt mengetahui fitrah manusia yang cenderung dan merasa tenteram bila bergaul dengan sesama manusia, oleh karena itu, Dia tidak pernah menganjurkan manusia untuk menjalin hubungan dengan makhluk ghaib yang asing bagi manusia. Bahkan Allah swt tidak memerintahkan kita untuk berkomunikasi dengan malaikat sekalipun, padahal semua malaikat adalah makhluk Allah yang taat kepada-Nya. Para nabi dan rasul alahimussalam pun hanya berhubungan dengan malaikat karena perintah Allah swt dalam rangka menerima wahyu, dan amat berat bagi mereka jika malaikat menampakkan wujudnya yang asli di hadapan mereka. Oleh karena itu tidak jarang para malaikat menemui Rasulullah saw dalam wujud manusia sempurna agar lebih mudah bagi Rasulullah saw untuk menerima wahyu.
Tentang ketenteraman hati manusia berhubungan dengan sesama manusia Allah swt berfirman:
Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir. (Ar-Rum: 21).
Makna “dari jenismu sendiri’ adalah dari sesama manusia, bukan jin atau malaikat, atau makhluk lain yang bukan manusia. Karena hubungan dengan makhluk lain, apalagi dalam bentuk pernikahan, tidak akan melahirkan ketenteraman, padahal ketenteraman adalah tujuan utama menjalin hubungan.
Beberapa Informasi tentang  Jin dari Al-Quran & Hadits
a.  Jin diciptakan dari api dan diciptakan sebelum manusia
Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia (Adam) dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Dan Kami telah menciptakan jin sebelumnya dari api yang sangat panas. (Al-Hijr: 26-27).
خُلِقَتِ الْمَلاَئِكَةُ مِنْ نُورٍ، وَخُلِقَ الْجَانُّ مِنْ مَارِجٍ مِنْ نَارٍ، وَخُلِقَ آدَمُ مِمَّا وُصِفَ لَكُمْ. رواه مسلم
Malaikat telah diciptakan dari cahaya, jin diciptakan dari nyala api, dan Adam diciptakan dari tanah (yang telah dijelaskan kepada kalian). (Muslim)
Perbedaan asal penciptaan ini menyebabkan manusia tidak dapat berhubungan dengan jin, sebagaimana manusia tidak bisa berhubungan dengan malaikat kecuali jika jin atau malaikat menghendakinya. Apabila manusia meminta jin agar bersedia berhubungan dengannya, maka pasti jin tersebut akan mengajukan syarat-syarat tertentu yang berpotensi menyesatkan manusia dari jalan Allah swt.
b.  Jin adalah makhluk yang berkembang biak dan berketurunan
Dan (Ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam, maka sujudlah mereka kecuali Iblis. Dia adalah dari golongan jin, maka ia mendurhakai perintah Tuhannya. Patutkah kamu mengambil dia dan turunan-turunannya sebagai pemimpin selain daripada-Ku, sedang mereka adalah musuhmu? Amat buruklah Iblis itu sebagai pengganti (dari Allah) bagi orang-orang yang zhalim. (Al-Kahfi: 50).
Al-Quran juga menyebutkan bahwa di antara bangsa jin ada kaum laki-laki nya (rijal) sehingga para ulama menyimpulkan berarti ada kaum perempuannya (karena tidak dapat dikatakan laki-laki kalau tidak ada perempuan). Dengan demikian berarti mereka berkembang biak.
Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan. (Al-Jin: 6).
c. Jin dapat melihat manusia sedangkan manusia tidak dapat melihat jin
Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh syaitan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapamu dari surga, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya ‘auratnya. Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dan suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan syaitan-syaitan itu pemimpin-pemimpin bagi orang-orang yang tidak beriman. (Al-A’raf: 27).
Hal ini membuat kita tidak dapat berhubungan dengan mereka secara wajar sebagaimana hubungan sesama manusia. Kalau pun terjadi hubungan, maka kita berada pada posisi yang lemah, karena kita tidak dapat melihat mereka dan mereka bisa melihat kita.
d. Bahwa di antara bangsa jin ada yang beriman dan ada pula yang kafir, karena mereka diberikan iradah (kehendak) dan hak memilih seperti manusia.
Dan sesungguhnya di antara kami ada jin yang taat dan ada (pula) jin yang menyimpang dari kebenaran. Barangsiapa yang taat, maka mereka itu benar-benar telah memilih jalan yang lurus. Adapun jin yang menyimpang dari kebenaran, maka mereka menjadi kayu api bagi neraka Jahanam. (Al-Jin (72): 14-15).
Meskipun ada yang muslim, tapi karena jin makhluk ghaib, maka tidak mungkin muncul ketenteraman hati dan kepercayaan penuh bagi kita terhadap keislaman mereka, apakah benar jin yang mengaku muslim jujur dengan pengakuannya atau dusta?! Kalau benar, apakah mereka muslim yang baik atau bukan?! Bahkan kita harus waspada dengan tipu daya mereka.
Berhubungan dengan jin adalah salah satu pintu kerusakan dan berpotensi mendatangkan bahaya besar bagi pelakunya. Potensi bahaya ini dapat kita pahami dari hadits Qudsi di mana Rasulullah saw menyampaikan pesan Allah swt:
وَإِنِّي خَلَقْتُ عِبَادِي حُنَفَاءَ كُلَّهُمْ، وَإِنَّهُمْ أَتَتْهُمْ الشَّيَاطِينُ فَاجْتَالَتْهُمْ عَنْ دِينِهِمْ، وَحَرَّمَتْ عَلَيْهِمْ مَا أَحْلَلْتُ لَهُمْ، وَأَمَرَتْهُمْ أَنْ يُشْرِكُوا بِي مَا لَمْ أُنْزِلْ بِهِ سُلْطَانًا. رواه مسلم
Dan sesungguhnya Aku telah menciptakan hamba-hamba-Ku semua dalam keadaan hanif (lurus), dan sungguh mereka lalu didatangi oleh setan-setan yang menjauhkan mereka dari agama mereka, mengharamkan apa yang telah Aku halalkan, dan memerintahkan mereka untuk menyekutukan-Ku dengan hal-hal yang tidak pernah Aku wahyukan kepada mereka sedikit pun. (Muslim)
Dalil lain tentang larangan berhubungan dengan jin adalah:
Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan. (Al-Jin: 6).
Imam At-Thabari dalam tafsirnya menyebutkan: “Ada penduduk kampung dari bangsa Arab yang menuruni lembah dan menambah dosa mereka dengan meminta perlindungan kepada jin penghuni lembah tersebut, lalu jin itu bertambah berani mengganggu mereka.
Tujuan seorang muslim melakukan hubungan sosial adalah dalam rangka beribadah kepada Allah swt dan berusaha meningkatkannya atau untuk menghindarkan dirinya dari segala hal yang dapat merusak ibadahnya kepada Allah. Melakukan hubungan dengan jin berpotensi merusak penghambaan kita kepada Allah yaitu terjatuh kepada perbuatan syirik seperti yang dijelaskan oleh ayat tersebut. Ketidakmampuan kita melihat mereka dan kemampuan mereka melihat kita berpotensi menjadikan kita berada pada posisi yang lebih lemah, sehingga jin yang kafir atau pendosa sangat mungkin memperdaya kita agar bermaksiat kepada Allah swt.
Bagaimana berhubungan dengan jin yang mengaku muslim? Kita tetap tidak dapat memastikan kebenaran pengakuannya karena kita tidak dapat melihat apalagi menyelidiki nya. Bila jin tersebut muslim sekalipun, bukan menjadi jaminan bahwa ia adalah jin muslim yang baik dan taat kepada Allah.
Di samping itu, tidak ada manusia yang dapat menundukkan jin sepenuhnya (taat sepenuhnya tanpa syarat) selain Nabi Sulaiman as dengan doanya:
Sulaiman berkata: “Ya Tuhanku, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki oleh seorang juapun sesudahku, sesungguhnya Engkaulah yang Maha Pemberi”. (Shad (38): 35).
Maka berhubungan dengan jin tidak mungkin dilakukan kecuali apabila jin itu menghendakinya, dan sering kali ia baru bersedia apabila manusia memenuhi syarat-syarat tertentu. Syarat-syarat ini dapat dipastikan secara bertahap akan menggiring manusia jatuh kepada kemaksiatan, bahkan mungkin kemusyrikan dan kekufuran yang mengeluarkannya dari ajaran Islam. Na’udzu billah.
Wallahu a’lam.
Referensi:
1.    Silsilah Aqidah oleh Umar Sulaiman Al Asyqar
2.    Al ‘Aqaid Al-Islamiyah oleh Abdurrahman Hasan Habannakah
3.    Tafsir At-Thabari.


Kematian, Setelah Semua Rezeki diberikan oleh Allah

Rasulullah saw bersabda: “Ketahuilah, Ruhul Amin (malaikat Jibril) telah mewahyukan kepadaku, bahwa tidak ada satu jiwa pun yang mati sebelum rezekinya diberikan seluruhnya.  Maka bertakwalah kepada Allah dan berusahalah mencarinya dengan baik.  Jangan sampai terlambatnya rezeki menyebabkan kalian mencarinya dengan maksiat kepada Allah.  Karena yang ada di sisi Allah tidak akan bisa diperoleh kecuali dengan taat kepada-Nya.” (HR. Al-Baghawi)

Senin, 14 Desember 2015

Kehebatan Al-Qur'an


           
 Kalau kita membaca dan menelusuri surah Al-Baqarah, di pembuka surah tersebut, akan di dapatkan sebuah statement Allah bahwa di dalam Al-Qur`an tidak ada satu ayat pun yang patut diragukan kebenaran dan otentisitasnya. Kemudian, di ayat-ayat berikutnya, Allah mengklasifikasi manusia dari dimensi teologi menjadi tiga jenis: Mu’min, Kafir, dan Munafik.
            Setelah membagi dan menggolongkan jenis manusia, masih di awal surah tersebut, Allah menguatkan masing-masing pengertian di atas dengan mensugesti hati nurani manusia -agar terbuka menerima kebenaran- dengan ayat-ayat yang argumentatif, bukan sekedar stimulatif. Pendekatan yang digunakan sangat jelas dan tegas, sehingga diharapkan keyakinan dan iman manusia bertambah kuat dan kokoh. Setelah bukti-bukti naluriah, Allah menguatkan iman manusia dengan bukti-bukti teoritik.

            “Dan jika kalian tetap dalam keraguan tentang Al-Qur`an yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surah (saja) yang semisal Al-Qur`an itu, dan ajaklah saksi-saksimu selain Allah, jika kalian memang orang-orang yang benar” (QS. 2:23).
            Allah tidak pernah memaksa manusia. Islam datang untuk membebaskan akal manusia dari belenggu sistem yang ada. Islam memberi cahaya pelita agar akal mampu melihat nilai baik atau buruk.
            Oleh karena itu, untuk meyakinkan eksistensi kemukjizatan Al-Qur`an, Allah menggunakan variasi-variasi pendekatan sebagai berikut:
1.      Mula-mula meyakinkan mereka yang meragukan Al-Qur`an. Pada tahap ini, Allah menantang mereka agar dapat menunjukkan sebuah ‘duplikat’ Kitab yang menyamai Al-Qur`an. Boleh dibantu unsur manusia dan jin (QS. 17:88).
2.      Ketika mereka masih beranggapan Muhammad yang membuat Al-Qur`an dan meyakini tesisnya itu benar, sementara mereka tidak bisa membuat yang semisal, maka -dengan bijak- Allah menurunkan standar permintaan kepada mereka untuk mendatangkan sepuluh surah saja yang mereka buat dan mampu menyamai Al-Qur`an, sekalipun dibantu oleh para sastrawan handal. (QS. 11:13).
3.      Bahkan, ketika mereka tidak mampu membuat sepuluh surat, dan masih tidak meyakini kebenarannya, Allah mempersilahkan mereka membuat satu surah saja, walau pun dibantu oleh para pemimpin terkemuka. (QS. 2:23).
4.      Sebagai statement terakhir, setelah ternyata mereka terbukti tidak mampu, Allah memberikan peringatan secara keras, bahwa mereka harus tunduk, atau neraka yang berbahan bakar orang kafir itu sebagai tempat semayamnya.

            Biasanya, apabila Allah swt sampai membuat statemen yang disertai dengan ancaman, berarti permasalahan tersebut masuk dalam kategori VIP (Very Important Principle), masalah prinsip yang sangat penting.

Kehebatan Al-Qur`an

            Kehebatan Al-Qur`an antara lain dapat dilihat dari dua sisi pendekatan:
Pertama: Pendekatan Historis
            Telah dimaklumi bersama, bahwa bangsa Arab adalah bangsa yang paling fasih lisannya dan paling utama bahasanya. Mereka membanggakan-banggakan kelebihan tersebut terutama pada tiga kesempatan, yaitu: ketika kelahiran anak laki-laki, ketika mencari kuda-kuda pilihan, dan ketika lomba cipta syair antar suku. Anak laki-laki dijadikan unsur motivator, kuda digunakan untuk berperang, sedang syair sebagai ciri keutamaan lisan suatu suku.
            Mereka kerap menyelenggarakan parade-parade dan kompetisi sastra. Media mereka adalah lisan. Mereka juga sering mengadakan festival-festival sastra tingkat tinggi, dengan mengangkat para juri yang bertugas menilai syair dan prosa hasil buah pikiran dan perenungan para sastrawan utusan masing-masing suku. Juri-juri ini dipilih dari para pakar yang menguasai parameter serta kaidah-kaidah bahasa dan sastra. Kemampuan tata bahasa dan kefasihan mereka sangat tinggi.
            Setelah kehadiran Nabi Muhammad saw, yang datang dengan membawa kalam Ilahi, ternyata mereka tidak mampu menyainginya. Mereka semua seolah tenggelam dalam lautan keindahan ‘sastra’ yang belum pernah mereka kenal sebelumnya. Mereka semua terpana dalam kekaguman akan isi dan makna ucapan Muhammad saw yang mereka anggap luar biasa. Padahal isi pembicaraan beliau bukanlah sejenis pidato, pantun, syair, ataupun prosa. Yang jelas nampak dalam pembicaraan beliau adalah kalimat-kalimat lugas yang sarat dengan makna dan kebenaran.

            “Katakanlah, “Jikalau Allah menghendaki, niscaya aku tidak membacakan-nya kepadamu, dan tidak pula memberitahukan kepadamu. Sesungguhnya aku telah tinggal bersamamu beberapa lama sebelumnya. Maka apa kalian tidak memikirkannya?” (QS. 10:16).
            Demikianlah, mereka terpaku di hadapan keagungan Al-Qur`an seraya tertunduk malu. Lihatlah Abu Jahal, pemuka orang-orang kafir dan musyrik, ketika datang kepada Nadlir bin Hakim, seorang jaksa dan tokoh pembesar mereka, dan berkata: “Wahai Nadlir, engkau termasuk orang yang paling tahu tentang Muhammad, coba katakan apa yang menarik dari Al-Qur`an?”. Nadlir menjawab, “Demi Allah, aku lebih tahu tentang syair serta seni bahasa dan sastra daripada kamu. Aku pun paham tentang sihir dan paranormal. Demi Allah, Al-Qur`an bukanlah jenis perkataan paranormal dan bukan pula jenis jampi-jampi tukang sihir. Sungguh, Al-Qur`an memiliki kemanisan dan keindahan yang menakjubkan. Bagian atasnya berbuah dan bagian bawahnya tumbuh lebat. Jelas kitab ini bukan buatan manusia.”. Abu jahal balik meminta, “Coba upayakan agar Al-Qur`an ini dinilai sebagai sihir. Pikirkan dan otak-atiklah!”. Akhirnya Nadlir pun menyatakan bahwa Al-Qur`an adalah sihir yang dapat dipelajari. Maka, turunlah ayat:
            “Sesungguhnya dia telah memikir-mikirkan dan membuat ketetapan. Maka celakalah dia! Bagaimana dia bisa membuat ketetapan (seperti itu)?. Kemudian celakalah dia! Bagaimana dia bisa membuat ketetapan (seperti itu)?. Kemudian dia memikir-mikirkan, kemudian dia bermuka masam dan merengut, kemudian dia berpaling (dari kebenaran) dan takabur (menyombongkan diri), lalu dia berkata: “(Al-Qur`an) ini tidak lain hanyalah sihir yang dipelajari (dari orang-orang dahulu), ini tidak lain hanyalah perkataan manusia” (QS. 74:18-25).
            Bila para ahli bahasa, ahli sastra, ahli balaghah saja lumpuh dihadapan Al-Qur`an, bagaimana dengan yang selain mereka?
Kedua: Pendekatan Ilmiah.
            Dalam pendekatan ilmiah, ada dua sudut tinjauan. Tinjauan etimonologi dan tinjauan terminologi. Bahasa dan istilah atau makna.
            Dari sudut bahasa, para ahli mendapatkan bahwa di setiap ayat, kata, bahkan huruf Al-Qur`an terdapat suatu pengertian yang hebat, yang menampilkan sisi-sisi kemukjizatannya. Makna yang tinggi itu dibentuk sedemikian rupa, sehingga mempunyai jangkauan-jangkauan yang jauh, cakupan yang luas, normatif, sekaligus metodologis dan sistematis.
            Diriwayatkan, suatu hari datang seorang laki-laki kepada seorang ulama yang nampak begitu gembira dan senang. Lelaki itu bertanya, “Mengapa anda kelihatan demikian gembira?”. Ulama itu menjawab, “Aku baru saja membaca sebuah ayat Al-Qur`an. Dalam satu ayat tadi, aku mendapatkan dua kabar, dua perintah, dua larangan dan sekaligus dua anugerah”. “Apa itu termaktub semua?”, tanya lelaki itu. Sang ulama pun menjelaskan: “Inilah ayatnya:

            “Dan Kami ilhamkan kepada ibu Musa: “Susukanlah dia. Dan apabila kamu khawatir tehadapnya, maka jatuhkanlah ia ke dalam sungai. Janganlah kamu khawatir dan janganlah bersedih hati, karena sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu dan menjadikannya (salah seorang) dari para Rasul” (QS. 28:7).
            Kata “Kami ilhamkan” dan “kamu khawatir” adalah dua kabar. Kata “Susukanlah dia” dan “jatuhkanlah dia” adalah dua perintah. Kata “Janganlah kamu khawatir” dan “janganlah kamu bersedih hati” adalah dua larangan. Kata “Kami akan mengembalikannya kepadamu” dan “menjadikannya (salah seorang) dari para Rasul” adalah dua pernyataan anugerah”.
            Juga dalam surah Ali ‘Imran, 3:191, yang berisi tentang pribadi Ulul Albab. Ayat ini bukan hanya bersifat normatif karena kandungan doktrinnya, tetapi juga berisi spesifikasi dan karakteristik Ulul Albab, metododologi pencapaiannya secara sistematik, sekaligus implikasi dan pengaruh positif dari terbentuknya pribadi Ulul Albab.
            Demikian pula dalam surah 16:125. Ayat ini bukan saja berisi tuntutan normatif tentang da’wah, tetapi sekaligus bermuatan tuntunan metodologis yang sangat sistematis dan ilmiah. Serta masih banyak ayat-ayat lain yang serupa.
            Adapun dipandang dari sudut terminologis (makna ayat), kandungan Al-Qur`an dapat diikhtisarkan menjadi tiga dimensi sifat: Komprehensif, karena membahas berbagai disiplin ilmu pengetahuan, seni, dan terapi jiwa; Eternal dan Reformis; serta menjangkau dimensi-dimensi non-inderawi (gaib).
            Pertama, Al-Qur`an bersifat komprehensif, membicarakan segala aspek. Seluruh materi kehidupan terhimpun dalam Al-Qur`an melalui perkataan Nabi Muhammad “al-Ummiy”.  Walaupun dia bukan seorang akademisi, bahkan tidak bisa baca tulis, namun dia mampu menjabarkan seluruh apa yang dibutuhkan manusia serta memecahkan berbagai problematika yang mereka hadapi. Problematika yang meliputi, hukum, undang-undang, sistem stratifikasi sosial kemasyarakatan, keluarga, serta masalah-masalah pribadi.
            Misalnya, sistem hukum dapat dipecahkan melalui delapan kata: “Wa syaawirhum fil amri, faidzaa ‘azamta fatawakkal ‘alallah” (“Dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam permasalahan, maka jika kalian telah ber’azam (bertekad, sepakat) bertawakkallah kepada Allah”).
            Dalam problema sosial ekonomi kemasyarakatan yang mengandung implikasi politik, cukup dipecahkan dengan empat belas kata. Tujuh kata dialamatkan kepada ‘Haakim’ (pemerintah): “Khudz min amwaalihim shadaqatan tuthahhiruhum wa tuzakkiihim bihaa” (“Ambillah dari harta-harta mereka sebagai shadaqah untuk membersihkan dan menyucikan mereka”).  Dan tujuh kata lain dialamatkan kepada ‘mahkuuminn’ (rakyat): “Wa fii amwaalihim haqqun ma’luumun lis-saailiin wal-marhuum” (“Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang-orang miskin yang meminta dan orang-orang miskin yang tidak memperoleh bagian”).
            Dalam problem rumah tangga, dipecahkan melalui delapan kata: “Walahunna mitslul-ladzii ‘alaihinna bil-ma’ruuf walir-rijaali ‘alaihim darajah” (“Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf, akan tetapi para suami mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada isterinya”).
            Jadi, untuk memecahkan problematika manusia, berupa hukum, undang-undang, masalah sosial, ekonomi, dan politik kemasyarakatan, serta kerumah-tanggaan, Al-Qur`an cukup hanya menggunakan tiga puluh kata saja.
            Demikian pula problema keduniaan yang universal. Para ilmuwan, pengamat, pakar dan pemikir, telah menghabiskan umur untuk memecahkan problematika ini, namun tidaklah berhasil sebagaimana yang dicapai Al-Qur`an, yang membuka telah ‘kran’ ilmu pengetahuan bagi manusia hingga mengalir tak habis-habisnya. Al-Qur`an juga membuka kesempatan seluas-luasnya bagi manusia dalam mengembangkan dinamika keilmuannya. Barangkali inilah pengertian kemukjizatan Al-Qur`an. Jika semua solusi qur`ani di atas diterapkan secara tepat, niscaya tidak akan muncul di permukaan bumi ini problema kemiskinan, kesenjangan sosial ekonomi yang lebar, situasi politik yang serba caos, disharmoni keluarga, dan kehancuran rumah tangga. Para hartawan dan pengusaha merasa aman dengan usahanya, para penerima shadaqah merasa tenang dengan keberlangsungan hidupnya, masyarakat umum merasa tenteram dalam harmonika kehidupan yang adil dan sejahtera.
            Kedua: Al-Qur`an bersifat eternal dan reformis. Berjalan sesuai dengan tuntutan zaman. Tidak kontradiksi dengan perkembangan rasio dan keilmuwan. Allah mengetahui bahwa manusia selalu berkembang, dinamis dan progresif. Andaikan hukum-hukum alam serta teori-teori ilmiah disusun secara definitif dan terbatas, maka manusia akan kacau balau, bingung, dan akan ingkar serta mendustakan kebenaran agama.
            Adalah suatu realitas yang tetap dalam tradisi kemanusiaan dalam hal produk berfikir. Bahwa kebenaran kemarin merupakan cerita bohong hari ini, dan kebenaran hari ini merupakan ketakhayulan hari esok. Rasio manusia senantiasa mencari-cari dan melayang. Karena ciri-ciri demikian, maka al-Qur`an datang dalam format elastis, berjalan seiring dengan derap kemajuan manusia. Semakin ilmu pengetahuan manusia bertambah, kian terbukti pula kemukjizatan dan kehebatan Al-Qur`an.

            “Kami akan perlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk serta pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka, bahwa sesungguhnya Al-Qur`an itu benar...” (QS. 41:53).
            Demikian pula, setiap ditemukan kebenaran ilmiah, disitu sudah diisyaratkan dalam Al-Qur`an. Al-Qur`an tidak bertentangan dengan kebenaran ilmiah. Dan inilah sebagian rahasia dari berbagai rahasia Al-Qur`an.

            “Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Qur`an? Kalau kiranya Al-Qur`an itu bukan dari Allah, tentu mereka akan mendapatkan di dalamnya banyak yang bertentangan” (QS. 4:82).
            Ketiga:  Al-Qur`an mampu menjangkau dimensi-dimensi non-inderawi. Misalnya, Al-Qur`an telah memprediksi kemenangan Romawi Timur yang berpusat di Konstantinopel, setelah beberapa saat sebelumnya mengalami kekalahan besar dari bangsa Persia. Ternyata prediksi Al-Qur`an itu benar-benar terbukti (QS. 30:2-3).
            Uraian di atas mengantar kita yakin akan kemukjizatan dan kehebatan Al-Qur`an. Manusia, bahkan jin, secara jelas tidak akan pernah mampu membuat semisal Al-Qur`an. Mengapa kita masih enggan mempelajarinya?.

Al-Qur’an Pedoman Hidup

            Setiap manusia menginginkan hidupnya selamat di dunia dan di akhirat. Oleh karenanya, ia membutuhkan pedoman yang akan menuntunnya dalam meniti jalan kehidupan ini. Al-Qur’an, sebagai the way of life for human ciptaan Allah swt, akan dapat menjadi pedoman, petunjuk, pembimbing, penjelas, dan berita gembira bagai setiap manusia apabila:
            Pertama: Meyakini penuh, tanpa ada unsur ragu terhadap kebenaran Al-Qur’an. Tiada satu sistem pun di dunia ini yang dapat menyelamatkan manusia, kecuali sistem Qur’ani. Semua sistem yang ada –baik politik, ekonomi, maupun social- yang tidak merujuk pada Al-Qur’an telah terbukti gagal menyejahterakan umat manusia. Islam adalah agama yang lengkap, utuh dan integral. Kita mesti yakin Islamlah alternatif sistem yang paling tepat untuk menyelesaikan berbagai problema kehidupan dalam segala dimensinya.
            Kedua: Menjadikan Al-Qur’an sebagai mitra, guru, dan ‘surat cinta’. Tiada hari terlewatkan tanpa berkomunikasi dengan Kalam Allah, sebagaimana dilakukan para ulama shalafush-shalih. Hari-hari dalam kehidupan mereka tidak pernah lengang dari Al-Qur’an. Setiap bulan –minimal- mereka mengkhatamkan bacaan Al-Qur’an. Pada masa Kekhalifah Umar bin Abdul Aziz, beliau selalu menyelesaikan masalah-masalah kenegaraan dengan merujuk langsung pada Al-Qur’an. Beliau selalu membacanya meskipun hanya dua atau tiga ayat, kemudian berkomentar, “…mudah-mudahan aku tidak tergolong orang-orang yang meninggalkan Al-Qur’an”.
            Rasulullah saw bersabda:
مَنْ قَرَأَ آيَةً مِنْ كِتِابِ اللهِ فَلَهُ بِكُلِّ حَرْفٍ عَشْرُ حَسَنَاتٍ. وَمَنْ يَسْتَمِعُ لَهَا كَانَتْ لَهُ نُوْرًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ.
          “Barangsiapa membaca satu ayat Al-Qur’an, baginya pahala sepuluh kebaikan dalam setiap huruf.  Dan barangsiapa yang mendengarkan, baginya cahaya di hari Kiamat.”
            Para huffazh (penghafal Al-Qur’an) dianggap membuat suatu kesalahan bila dia lupa (tidak memperhatikannya). Oleh karena itu, kita harus memperbanyak membaca Al-Qur’an serta membiasakannya secara rutin dan berkesinambungan. Ini dalam rangka mengikuti jejak para sahabat, para ulama shalafush-shalih, sekaligus menaati perintah Allah dan Rasul-Nya untuk membaca dan memahami isi kandungannya.
            Ketiga: Meperhatikan etika dan kaidah membaca dan men-tadabbur-i (memahami dan menghayati) Al-Qur’an. Rasulullah saw bersabda:
إِنَّ هَذَا الْقُرْآنَ نُزِلَ بِحُزْنٍ. فَإِنْ قَرَأْ تُمُوْهُ فَابْكُوْا فَإِنْ لَمْ تَبْكُوْا فَتَبَاكَوْا.
            “Sesungguhnya Al-Qur’an diturunkan dalam keheningan. Maka menangislah dikala membacanya. Bila tidak bisa, maka berusahalah menangis-nangiskannya”.
            Hadits ini mengharuskan adanya usaha ke arah penghayatan Al-Qur’an dan menjaga tipu daya setan yang selalu berusaha memalingkan manusia dari kesukaan tadabbur Al-Qur’an. Meskipun baru sampai pada taraf oral, kita dituntut untuk terus membaca, sehingga Al-Qur’an benar-benar membekas dalam kalbu.
            Suatu malam, ketika kebanyakan manusia tengah terlelap dalam tidurnya,  khalifah Umar bin Khattab sedang melakukan hirasah (ronda), beliau mendengar seseorang tengah membaca Al-Qur’an dengan syahdu:

            “Dengan menyebut Asma’ Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Demi bukit. Demi Kitab yang tertulis, pada lembaran yang terbuka. Demi Baitul Ma’mur. Demi atap (langit) yang ditinggikan. Demi laut yang menggelora. Sungguh adzab Rabb-mu pasti dan nyata akan datang!”(QS. 52:1-7).
            Ketika mendengar ayat ini dibaca, tiba-tiba beliau seperti menggigil dan berkata, “Sungguh, ini adalah sebuah persaksian (sumpah) yang benar. Demi Rabbnya Ka’bah……”, setelah itu beliau terjatuh pingsan. Salah seorang sahabat yang sempat menyaksikan kejadian tersebut, segera mengangkat dan membawa masuk ke rumahnya. Tiga puluh hari beliau di sana karena sakit. Menjadi kebiasaan Umar bin ‘Abdul ‘Aziz selesai shalat Isya’ beliau mengambil air wudhu kemudian shalat dan membaca ayat :

I           “(Kepada malaikat diperintahkan): ‘Kumpulkan orang-orang zhalim beserta teman sejawat mereka dan sesembahan yang selalu mereka sembah selain Allah; maka tunjukkanlah mereka jalan ke neraka. Dan tahanlah mereka, karena sesungguhnya mereka akan ditanya’.” (QS. 37:22-24).
            Beliau selalu mengulang ayat: “waqifuuhum innahum mas’uuluun”  (Dan tahanlah mereka, karena sesungguhnya mereka akan ditanya). Demikian dilakukan sampai datang azan subuh.
            Al-Qur’an mampu meluluhkan hati orang-orang kafir, padahal mereka orang yang paling jauh dari Al-Qur’an. Utbah bin Rabah misalnya, dia orang kafir Quraisy, ketika mendengar bacaan Al-Qur’an dari Rasulullah saw, dia berkomentar: “Sesungguhnya ayat ini mengandung kelezatan, patut dibaca, sisi atas berbuah, sisi bawah lebat; ia bukan sekedar ucapan manusia”. Raja Najasi beserta rakyatnya ketika mendengarkan ayat Al-Qur’an yang dibacakan oleh Ja’far bin Abu Thalib, berlinanglah air mata mereka.
            Kalau orang kafir yang jauh dari Al-Qur’an saja sedemikian tanggapnya, bagaimana dengan kita? Dan bagaimana reaksi orang mukmin ketika membaca ayat berikut ini:
            “Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al-Qur’an yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhan-Nya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka manakala mengingat kalam Allah. Itulah petunjuk Allah. Dengan Kitab itu Dia menunjukkan siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang disesatkan Allah, niscaya tidak ada petunjuk (hidayah) baginya”. (QS. 39:23).
            Keempat. Setelah meyakini Al-Qur’an satu-satunya penyelamat dan pengatur kehidupan manusia, kewajiban berikutnya adalah pengamalan dan pengoperasionalannya. Dalam hal ini, Al-Qur’an mengandung seperangkat hukum implementatif, yang dapat diklasifikasi menjadi dua bagian:
  1. Hukum-hukum individual. Diorientasikan pada objek individu. Misalnya: shalat, shaum, zakat, haji, taubat, istighfar, berakhlak, dan lain-lain. Namun, hukum-hukum ini juga mempunyai kaitan dengan objek social yang harus diselesaikan oleh individu. Oleh sebab itu, di dalam membaca Al-Qur’an seyogyanya ada perhatian pula terhadap isyarat hukum-hukumnya. Misalnya bagi orang yang belum melakukan shalat, dia harus melakukannya setelah membaca ayat: “Aqiimush-shalah” (dirikanlah shalat). Ketika dia membaca ayat: “Walaa tabkhasuu an-Naasa asyyaa’ahum” (jangan kau kurangi seluruh apa yang menjadi hak-haknya), maka dia harus memberikan hak-hak mereka. Sehingga tidak ada praktek penghisapan dan manipulasi. Haram atau halal sudah jelas dalam Al-Qur’an.
  2. Hukum-hukum social. Diorientasikan pada masalah-masalah yang berkaitan dengan wewenang pemerintah, misalnya hukum pidana dan jihad. Negara harus melakukan semua tugas dan kepentingan social. Bila tidak, maka pemerintah bertanggung jawab terhadap Allah swt.dan rakyat mempunyai hak otonom menuntut pelaksanaan hukum-hukum di atas. Islam tidak kenal ampun pada tanggung jawab yang telah dibebankan kepada manusia. Apakah hal ini telah kita amalkan?
            Wallahu a’lam bish-shawab.

            

Agar Do'a Makbul

Pada suatu hari Saad bin Abi Waqqas bertanya kepada Rasulullah, "Ya Rasulullah, doakan aku kepada Allah agar aku dijadikan Allah orang yang makbul doanya." Rasulullah menjawab, "Hai Saad, makanlah yang baik, (halal) tentu engkau menjadi orang yang makbul doanya. Demi Allah yang memegang jiwa Muhammad, sesungguhnya seorang yang pernah melemparkan sesuap makanan haram ke dalam mulutnya (perutnya), maka tidaklah akan dikabulkan doanya selama selama 40 hari. Siapa saja manusia yang dagingnya tumbuh dari makanan yang haram, maka nerakalah yang berhak untuk orang itu." (HR. Alhaafidh Abubakar bin Mardawih dikutip oleh Alhaafidh Ibnu Kathin dalam tafsirnya).
Sudah lelah rasanya berdoa dan memunajat, namun mengapa Allah tidak pula memperkenankan. Permohonan dan permintaan tidak pula Dia kabulkan. Kadang kecewa dan putus asa bila demikian adanya. Bahkan timbul penilaian, Allah telah ingkar janji dengan perkataan-Nya sendiri. Padahal Dia telah menyatakan, "Ud'uunii astajiblakum", berdoalah kepada-Ku, niscaya Ku-kabulkan. Tapi mana buktinya!
Inilah ucapan orang-orang yang tidak pernah mempelajari Al-Qur'an dan Al Hadits. Mereka tidak mengerti bahwa berdoa itu tidak dikerjakan secara sembrono dan sembarangan, tetapi perlu adab-adab dan syarat-syarat tertentu. Mereka menganggap berdoa itu pekerjaan yang sepele dan gampang. Sehingga mereka sering meremehkan dan akibatnya doa tak pernah terkabulkan. Kemudian timbul persangkaan buruk kepada Allah.
Jadi, apa yang menyebabkan doa tidak dikabulkan? banyak hal yang menyebabkan permohonan dan permintaan tidak dikabulkan? Banyak hal yang menyebabkan permohonan dan permintaan tidak diperkenankan Allah. Sudahkah kita menghindari perut kita dari makanan dan minuman yang diharamkan Allah? Bila masih tetap saja perut kita terisi dengan hal-hal yang haram, tentulah doa yang kita panjatkan tak pernah Allah kabulkan.
Sesuap makanan saja, akan mengakibatkan doa kita selama 40 hari tidak terkabul, apabila makanan haram yang masuk ke perut kita lebih dari sesuap bahkan berkali-kali sehingga tak terhitung lagi, sudah tentu sampai matipun kita berdoa, Allah tak akan mengabulkannya.
Untuk itu agar doa dikabulkan Allah, perlu pengetahuan dalam tata cara berdoa yang diberitakan Rasulullah. Bagaimana sunnahnya agar permohonan dan permintaan diperkenankan.
Langkah pertama, hindari perut dari kemasukan barang-barang haram. Jangan sampai sesuap pun makanan haram yang kita telan. Jangan seteguk pun minuman haram yang kita minum. Selektiflah dalam memilih makanan, yang meragukan sebaiknya ditinggalkan. Pilih saja makanan atau minuman yang benar-benar halal dan baik. Allah berfirman, "Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syetan, karena sesungguhnya syetan itu adalah musuh yang nyata bagimu." (QS. al-Baqarah : 168)
Memakan makanan yang halal dan baik merupakan salah satu bentuk dari ketaatan kita kepada Allah dalam memenuhi segala perintah-Nya. Bila kita selalu taat kepada Allah dan dalam mengarungi kehidupan ini senantiasa berada dalam kebenaran, tentulah segala apa yang kita mohon, kita panjatkan, dan kita minta pastilah Allah akan mengabulkannya.
"Aku mengabulkan permohonan orang yang mendoa apabila ia berdoa kepadaku maka hendaklah mereka itu memenuhi segala perintahKu dan hendaklah mereka berikan kepadaKu, agar mereka selalu berada dalam kebenaran." (QS. al-Baqarah :186)
Langkah kedua, karena doa ini pekerjaan yang agung dan sangat utama, sebagai inti ibadah, maka dalam pelaksanaannya harus khusyu'dan serius tidak dengan main-main. Usahakan dalam berdoa ini dengan penuh keyakinan, penuh harap dan rasa takut. Merendahkan diri dengan suara yang lirih, tenang, tidak tergesa-gesa, dengan keimanan, dan tahu akan hakikat yang diminta. Allah telah menyatakan,
"Berdoalah kepada Tuhanmu dengan merendah diri dan suara yang lembut .." (QS. al-A'raf : 55)
Langkah ketiga, mengetahui waktu-waktu doa dikabulkan. Walaupun berdoa ini bisa dilakukan sembarang waktu, namun ada waktu-waktu yang memang disunnahkan. Insya Allah pada waktu-waktu ini segala doa akan diperkenankan dan dikabulkan.
Ditengah malam yang sunyi dimana orang-orang terlelap dengan tidurnya, ditemani mimpi-mimpi, kita terjaga, berdiri, ruku', sujud, dan memunajat kepada-Nya dengan penuh kekhusyukan dan penuh harap, tentulah Allah akan mendengar dan memperkenankan ratapan, permintaan, dan permohonan kita.
Di akhir-akhir shalat fardhu, di waktu tahiyyat akhir (sebelum) salam, adalah waktu-waktu yang sangat tepat untuk berdoa. Doa apa saja, yang mengarah pada kebaikan, tentu Allah akan mengabulkannya. Rasulullah SAW ditanya, "Pada waktu apa doa manusia lebih didengar Allah?" Lalu Rasulullah menjawab, "Pada tengah malam, pada akhir tiap shalat fardhu." (Mashabih Assunah).
Selain tengah malam dan akhir shalat fardhu, ada juga waktu-waktu yang dimakbulkan doanya sudah tidak diragukan lagi, dan ini pun merupakan sunnah-sunnah Rasulullah SAW. Seperti di sepertiga malam sampai fajar, diantara adzan dan iqamat, di waktu sujud, di bulan Ramadhan, dan di malam lailatul qadar.
Langkah keempat, orang-orang tertentu yang dikabulkan doanya. Walaupun setiap orang yang berdoa kepada Allah dengan sungguh-sungguh dan memenuhi persyaratan-persyaratannya akan dikabulkan, namun ada orang yang doanya dijamin diperkenankan Allah. Setiap ratapan doanya didengar dan dikabulkan. Segala permintaan dan permohonannya mesti diberikan tanpa terkecuali. Allah ridha kepada mereka dan begitu menaruh perhatian yang sangat. Allah istimewakan mereka, karena pengorbanan dan pengabdiannya yang tiada tara, akhlak yang mulia dan juga ketabahannya dalam menapaki kebenaran.
Allah istimewakan kedua orang tua yang mengasuh, mendidik, dan menafkahi anaknya dengan penuh kasih sayang. Mereka bimbing anaknya menuju jalan yang diridhai Allah, sampai usia anak dewasa. Orang tua seperti inilah yang segala permintaan dan permohonannya dikabulkan.
Musafir yang bepergian untuk maksud baik dan tujuan mulia, orang yang menolong orang lain yang dalam kesempitan, seorang muslim yang mendoakan teman-temannya yang tidak hadir, dan orang shalih, doanya akan diperkenankan dan dikabulkan Allah SWT. Seperti halnya orang tua yang mangasuh anaknya tadi.
Di samping orang-orang yang telah disebut di atas yang dikabulkan doanya, ada juga doa orang-orang yang diangkat Allah ke atas awan, dibukakan pintu langit, dan Allah tidak menolak doanya, yaitu orang yang berpuasa sampai dia berbuka, penguasa yang adil dan orang yang teraniaya.
"Ada tiga orang yang tidak ditolak doa mereka: orang yang berpuasa sampai dia berbuka, seorang penguasa yang adil, dan doa orang yang teraniaya. Doa mereka diangkat Allah ke atas awan dan dibukakan baginya pintu langit dan Allah bertitah, 'Demi keperkasaan-Ku, Aku akan memenangkanmu (menolongmu) meskipun tidak segera." (HR. Attirmidzi)
Dari rangkaian ulasan tentang doa di atas, nyatalah bahwa berdoa itu tidak sembarangan dan main-main, tapi memerlukan syarat-syarat yang harus dipenuhi, sehingga janji-janji Allah yang akan mengabulkan doa-doa hamba-Nya akan menjadi kenyataan. namun harus diingat bahwa Allah dalam mengabulkan doa seseorang hamba, ada yang langsung terkabul di dunia, ada yang ditabung sampai di akhirat, dan ada pula diganti dengan mencegahnya dari bencana.
"Tiada seorang berdoa kepada Allah dengan suatu doa, kecuali dikabulkan-Nya dan dia memperoleh salah satu dari tiga hal, yaitu dipercepat terkabulnya baginya di dunia, disimpan (ditabung) untuknya sampai di akhirat, atau diganti dengan mencegahnya dari musibah (bencana) yang serupa." (HR. Atthabrani