Kalau kita membaca dan menelusuri
surah Al-Baqarah, di pembuka surah tersebut, akan di dapatkan sebuah statement Allah bahwa di dalam
Al-Qur`an tidak ada satu ayat pun yang patut diragukan kebenaran dan
otentisitasnya. Kemudian, di ayat-ayat berikutnya, Allah mengklasifikasi
manusia dari dimensi teologi menjadi tiga jenis: Mu’min, Kafir, dan Munafik.
Setelah membagi dan menggolongkan
jenis manusia, masih di awal surah tersebut, Allah menguatkan masing-masing
pengertian di atas dengan mensugesti hati nurani manusia -agar terbuka menerima
kebenaran- dengan ayat-ayat yang argumentatif, bukan sekedar stimulatif. Pendekatan
yang digunakan sangat jelas dan tegas, sehingga diharapkan keyakinan dan iman
manusia bertambah kuat dan kokoh. Setelah bukti-bukti naluriah, Allah
menguatkan iman manusia dengan bukti-bukti teoritik.
“Dan
jika kalian tetap dalam keraguan tentang Al-Qur`an yang Kami wahyukan kepada
hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surah (saja) yang semisal Al-Qur`an itu,
dan ajaklah saksi-saksimu selain Allah, jika kalian memang orang-orang yang
benar” (QS. 2:23).
Allah tidak pernah memaksa manusia.
Islam datang untuk membebaskan akal manusia dari belenggu sistem yang ada.
Islam memberi cahaya pelita agar akal mampu melihat nilai baik atau buruk.
Oleh karena itu, untuk meyakinkan
eksistensi kemukjizatan Al-Qur`an, Allah menggunakan variasi-variasi pendekatan
sebagai berikut:
1.
Mula-mula meyakinkan mereka
yang meragukan Al-Qur`an. Pada tahap ini, Allah menantang mereka agar dapat
menunjukkan sebuah ‘duplikat’ Kitab yang menyamai Al-Qur`an. Boleh dibantu unsur manusia dan jin (QS. 17:88).
2.
Ketika
mereka masih beranggapan Muhammad yang membuat Al-Qur`an dan meyakini tesisnya
itu benar, sementara mereka tidak bisa membuat yang semisal, maka -dengan
bijak- Allah menurunkan standar permintaan kepada mereka untuk mendatangkan
sepuluh surah saja yang mereka buat dan mampu menyamai Al-Qur`an, sekalipun
dibantu oleh para sastrawan handal. (QS. 11:13).
3.
Bahkan,
ketika mereka tidak mampu membuat sepuluh surat, dan masih tidak meyakini
kebenarannya, Allah mempersilahkan mereka membuat satu surah saja, walau pun
dibantu oleh para pemimpin terkemuka. (QS. 2:23).
4.
Sebagai
statement terakhir, setelah ternyata mereka terbukti tidak mampu, Allah
memberikan peringatan secara keras, bahwa mereka harus tunduk, atau neraka yang
berbahan bakar orang kafir itu sebagai tempat semayamnya.
Biasanya, apabila Allah
swt sampai membuat statemen yang disertai dengan ancaman, berarti permasalahan
tersebut masuk dalam kategori VIP (Very Important Principle), masalah prinsip
yang sangat penting.
Kehebatan Al-Qur`an
Kehebatan Al-Qur`an antara
lain dapat dilihat dari dua sisi pendekatan:
Pertama: Pendekatan Historis
Telah dimaklumi bersama, bahwa
bangsa Arab adalah bangsa yang paling fasih lisannya dan paling utama
bahasanya. Mereka membanggakan-banggakan kelebihan tersebut terutama pada tiga
kesempatan, yaitu: ketika kelahiran anak laki-laki, ketika mencari kuda-kuda
pilihan, dan ketika lomba cipta syair antar suku. Anak laki-laki dijadikan
unsur motivator, kuda digunakan untuk berperang, sedang syair sebagai ciri
keutamaan lisan suatu suku.
Mereka kerap menyelenggarakan
parade-parade dan kompetisi sastra. Media mereka adalah lisan. Mereka juga
sering mengadakan festival-festival sastra tingkat tinggi, dengan mengangkat
para juri yang bertugas menilai syair dan prosa hasil buah pikiran dan
perenungan para sastrawan utusan masing-masing suku. Juri-juri
ini dipilih dari para pakar yang menguasai parameter serta kaidah-kaidah bahasa
dan sastra. Kemampuan tata bahasa dan kefasihan mereka sangat tinggi.
Setelah kehadiran Nabi
Muhammad saw, yang datang dengan membawa kalam Ilahi, ternyata mereka tidak
mampu menyainginya. Mereka semua seolah tenggelam dalam lautan keindahan
‘sastra’ yang belum pernah mereka kenal sebelumnya. Mereka semua terpana dalam
kekaguman akan isi dan makna ucapan Muhammad saw yang mereka anggap luar biasa.
Padahal isi pembicaraan beliau bukanlah sejenis pidato, pantun, syair, ataupun
prosa. Yang jelas nampak dalam pembicaraan beliau adalah kalimat-kalimat lugas
yang sarat dengan makna dan kebenaran.
“Katakanlah, “Jikalau Allah menghendaki, niscaya aku
tidak membacakan-nya kepadamu, dan tidak pula memberitahukan kepadamu.
Sesungguhnya aku telah tinggal bersamamu beberapa lama sebelumnya. Maka apa kalian tidak memikirkannya?” (QS. 10:16).
Demikianlah, mereka terpaku di
hadapan keagungan Al-Qur`an seraya tertunduk malu. Lihatlah Abu Jahal, pemuka
orang-orang kafir dan musyrik, ketika datang kepada Nadlir bin Hakim, seorang
jaksa dan tokoh pembesar mereka, dan berkata: “Wahai Nadlir, engkau termasuk
orang yang paling tahu tentang Muhammad, coba katakan apa yang menarik dari
Al-Qur`an?”. Nadlir menjawab, “Demi Allah, aku lebih tahu
tentang syair serta seni bahasa dan sastra daripada kamu. Aku pun paham tentang
sihir dan paranormal. Demi Allah, Al-Qur`an bukanlah jenis perkataan paranormal
dan bukan pula jenis jampi-jampi tukang sihir. Sungguh, Al-Qur`an memiliki
kemanisan dan keindahan yang menakjubkan. Bagian atasnya berbuah dan
bagian bawahnya tumbuh lebat. Jelas kitab ini bukan buatan manusia.”. Abu jahal
balik meminta, “Coba upayakan agar Al-Qur`an ini dinilai sebagai sihir.
Pikirkan dan otak-atiklah!”. Akhirnya Nadlir pun menyatakan bahwa Al-Qur`an
adalah sihir yang dapat dipelajari. Maka, turunlah ayat:
“Sesungguhnya
dia telah memikir-mikirkan dan membuat ketetapan. Maka celakalah dia! Bagaimana
dia bisa membuat ketetapan (seperti itu)?. Kemudian celakalah dia! Bagaimana
dia bisa membuat ketetapan (seperti itu)?. Kemudian dia memikir-mikirkan,
kemudian dia bermuka masam dan merengut, kemudian dia berpaling (dari
kebenaran) dan takabur (menyombongkan diri), lalu dia berkata: “(Al-Qur`an) ini
tidak lain hanyalah sihir yang dipelajari (dari orang-orang dahulu), ini tidak
lain hanyalah perkataan manusia” (QS. 74:18-25).
Bila para ahli bahasa, ahli sastra,
ahli balaghah saja lumpuh dihadapan Al-Qur`an, bagaimana dengan yang selain
mereka?
Kedua: Pendekatan Ilmiah.
Dalam pendekatan ilmiah, ada dua
sudut tinjauan. Tinjauan etimonologi dan tinjauan terminologi. Bahasa dan
istilah atau makna.
Dari sudut bahasa, para ahli
mendapatkan bahwa di setiap ayat, kata, bahkan huruf Al-Qur`an terdapat suatu
pengertian yang hebat, yang menampilkan sisi-sisi kemukjizatannya. Makna yang
tinggi itu dibentuk sedemikian rupa, sehingga mempunyai jangkauan-jangkauan
yang jauh, cakupan yang luas, normatif, sekaligus metodologis dan sistematis.
Diriwayatkan, suatu hari datang
seorang laki-laki kepada seorang ulama yang nampak begitu gembira dan senang. Lelaki itu bertanya, “Mengapa anda kelihatan demikian gembira?”. Ulama itu
menjawab, “Aku baru saja membaca sebuah ayat Al-Qur`an. Dalam satu ayat tadi,
aku mendapatkan dua kabar, dua perintah, dua larangan dan sekaligus dua
anugerah”. “Apa itu termaktub semua?”, tanya lelaki itu. Sang ulama pun
menjelaskan: “Inilah ayatnya:
“Dan Kami
ilhamkan kepada ibu Musa: “Susukanlah dia. Dan apabila kamu khawatir
tehadapnya, maka jatuhkanlah ia ke dalam sungai. Janganlah kamu khawatir dan
janganlah bersedih hati, karena sesungguhnya Kami akan mengembalikannya
kepadamu dan menjadikannya (salah seorang) dari para Rasul” (QS. 28:7).
Kata “Kami ilhamkan” dan “kamu
khawatir” adalah dua kabar. Kata “Susukanlah
dia” dan “jatuhkanlah dia” adalah
dua perintah. Kata “Janganlah kamu
khawatir” dan “janganlah kamu
bersedih hati” adalah dua larangan. Kata “Kami akan mengembalikannya kepadamu” dan “menjadikannya (salah seorang) dari para Rasul” adalah dua
pernyataan anugerah”.
Juga dalam surah Ali ‘Imran, 3:191,
yang berisi tentang pribadi Ulul Albab. Ayat ini bukan hanya bersifat normatif
karena kandungan doktrinnya, tetapi juga berisi spesifikasi dan karakteristik
Ulul Albab, metododologi pencapaiannya secara sistematik, sekaligus implikasi
dan pengaruh positif dari terbentuknya pribadi Ulul Albab.
Demikian pula dalam surah 16:125.
Ayat ini bukan saja berisi tuntutan normatif tentang da’wah, tetapi sekaligus
bermuatan tuntunan metodologis yang sangat sistematis dan ilmiah. Serta masih
banyak ayat-ayat lain yang serupa.
Adapun dipandang dari sudut
terminologis (makna ayat), kandungan Al-Qur`an dapat diikhtisarkan menjadi tiga
dimensi sifat: Komprehensif, karena membahas berbagai disiplin ilmu
pengetahuan, seni, dan terapi jiwa; Eternal dan Reformis; serta menjangkau
dimensi-dimensi non-inderawi (gaib).
Pertama,
Al-Qur`an bersifat komprehensif, membicarakan segala aspek. Seluruh materi
kehidupan terhimpun dalam Al-Qur`an melalui perkataan Nabi Muhammad
“al-Ummiy”. Walaupun dia bukan seorang
akademisi, bahkan tidak bisa baca tulis, namun dia mampu menjabarkan seluruh
apa yang dibutuhkan manusia serta memecahkan berbagai problematika yang mereka
hadapi. Problematika yang meliputi, hukum, undang-undang, sistem stratifikasi
sosial kemasyarakatan, keluarga, serta masalah-masalah pribadi.
Misalnya, sistem hukum dapat
dipecahkan melalui delapan kata: “Wa syaawirhum fil amri, faidzaa ‘azamta
fatawakkal ‘alallah” (“Dan
bermusyawarahlah dengan mereka dalam permasalahan, maka jika kalian telah
ber’azam (bertekad, sepakat) bertawakkallah kepada Allah”).
Dalam problema sosial ekonomi
kemasyarakatan yang mengandung implikasi politik, cukup dipecahkan dengan empat
belas kata. Tujuh kata dialamatkan kepada ‘Haakim’ (pemerintah): “Khudz
min amwaalihim shadaqatan tuthahhiruhum wa tuzakkiihim bihaa” (“Ambillah dari harta-harta mereka sebagai
shadaqah untuk membersihkan dan menyucikan mereka”). Dan tujuh kata lain dialamatkan kepada
‘mahkuuminn’ (rakyat): “Wa fii amwaalihim haqqun ma’luumun
lis-saailiin wal-marhuum” (“Dan
pada harta-harta mereka ada hak untuk orang-orang miskin yang meminta dan
orang-orang miskin yang tidak memperoleh bagian”).
Dalam problem rumah tangga,
dipecahkan melalui delapan kata: “Walahunna mitslul-ladzii ‘alaihinna
bil-ma’ruuf walir-rijaali ‘alaihim darajah” (“Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya
menurut cara yang ma’ruf, akan tetapi para suami mempunyai satu tingkatan
kelebihan daripada isterinya”).
Jadi, untuk memecahkan problematika
manusia, berupa hukum, undang-undang, masalah sosial, ekonomi, dan politik
kemasyarakatan, serta kerumah-tanggaan, Al-Qur`an cukup hanya menggunakan tiga
puluh kata saja.
Demikian pula problema keduniaan
yang universal. Para ilmuwan, pengamat, pakar dan pemikir, telah menghabiskan
umur untuk memecahkan problematika ini, namun tidaklah berhasil sebagaimana
yang dicapai Al-Qur`an, yang membuka telah ‘kran’ ilmu pengetahuan bagi manusia
hingga mengalir tak habis-habisnya. Al-Qur`an juga membuka kesempatan
seluas-luasnya bagi manusia dalam mengembangkan dinamika keilmuannya.
Barangkali inilah pengertian kemukjizatan Al-Qur`an. Jika semua solusi qur`ani
di atas diterapkan secara tepat, niscaya tidak akan muncul di permukaan bumi
ini problema kemiskinan, kesenjangan sosial ekonomi yang lebar, situasi politik
yang serba caos, disharmoni keluarga, dan kehancuran rumah tangga. Para
hartawan dan pengusaha merasa aman dengan usahanya, para penerima shadaqah
merasa tenang dengan keberlangsungan hidupnya, masyarakat umum merasa tenteram
dalam harmonika kehidupan yang adil dan sejahtera.
Kedua:
Al-Qur`an bersifat eternal dan reformis. Berjalan sesuai dengan
tuntutan zaman. Tidak kontradiksi dengan perkembangan rasio dan keilmuwan. Allah
mengetahui bahwa manusia selalu berkembang, dinamis dan progresif. Andaikan
hukum-hukum alam serta teori-teori ilmiah disusun secara definitif dan
terbatas, maka manusia akan kacau balau, bingung, dan akan ingkar serta
mendustakan kebenaran agama.
Adalah suatu realitas yang tetap
dalam tradisi kemanusiaan dalam hal produk berfikir. Bahwa kebenaran kemarin
merupakan cerita bohong hari ini, dan kebenaran hari ini merupakan ketakhayulan
hari esok. Rasio manusia senantiasa mencari-cari dan
melayang. Karena ciri-ciri demikian, maka al-Qur`an datang dalam format
elastis, berjalan seiring dengan derap kemajuan manusia. Semakin ilmu
pengetahuan manusia bertambah, kian terbukti pula kemukjizatan dan kehebatan
Al-Qur`an.
“Kami akan perlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di
segenap ufuk serta pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka,
bahwa sesungguhnya Al-Qur`an itu benar...” (QS. 41:53).
Demikian pula, setiap ditemukan
kebenaran ilmiah, disitu sudah diisyaratkan dalam Al-Qur`an. Al-Qur`an tidak
bertentangan dengan kebenaran ilmiah. Dan inilah sebagian rahasia dari berbagai
rahasia Al-Qur`an.
“Maka
apakah mereka tidak memperhatikan Al-Qur`an? Kalau kiranya Al-Qur`an itu bukan
dari Allah, tentu mereka akan mendapatkan di dalamnya banyak yang bertentangan”
(QS. 4:82).
Ketiga: Al-Qur`an mampu menjangkau dimensi-dimensi
non-inderawi. Misalnya, Al-Qur`an telah memprediksi kemenangan Romawi Timur
yang berpusat di Konstantinopel, setelah beberapa saat sebelumnya mengalami
kekalahan besar dari bangsa Persia. Ternyata prediksi Al-Qur`an itu benar-benar
terbukti (QS. 30:2-3).
Uraian di atas mengantar
kita yakin akan kemukjizatan dan kehebatan Al-Qur`an. Manusia, bahkan jin,
secara jelas tidak akan pernah mampu membuat semisal Al-Qur`an. Mengapa kita
masih enggan mempelajarinya?.
Al-Qur’an Pedoman Hidup
Setiap
manusia menginginkan hidupnya selamat di dunia dan di akhirat. Oleh karenanya,
ia membutuhkan pedoman yang akan menuntunnya dalam meniti jalan kehidupan ini.
Al-Qur’an, sebagai the way of life for human ciptaan Allah swt, akan
dapat menjadi pedoman, petunjuk, pembimbing, penjelas, dan berita gembira bagai
setiap manusia apabila:
Pertama:
Meyakini penuh, tanpa ada unsur ragu terhadap kebenaran Al-Qur’an.
Tiada satu sistem pun di dunia ini yang dapat menyelamatkan manusia, kecuali
sistem Qur’ani. Semua sistem yang ada –baik politik, ekonomi, maupun social-
yang tidak merujuk pada Al-Qur’an telah terbukti gagal menyejahterakan umat
manusia. Islam adalah agama yang lengkap, utuh dan integral. Kita mesti yakin
Islamlah alternatif sistem yang paling tepat untuk menyelesaikan berbagai
problema kehidupan dalam segala dimensinya.
Kedua:
Menjadikan Al-Qur’an sebagai mitra, guru, dan ‘surat cinta’. Tiada hari
terlewatkan tanpa berkomunikasi dengan Kalam Allah, sebagaimana dilakukan para
ulama shalafush-shalih. Hari-hari dalam kehidupan mereka tidak pernah
lengang dari Al-Qur’an. Setiap bulan –minimal- mereka mengkhatamkan bacaan
Al-Qur’an. Pada masa Kekhalifah Umar bin Abdul Aziz, beliau selalu
menyelesaikan masalah-masalah kenegaraan dengan merujuk langsung pada
Al-Qur’an. Beliau selalu membacanya meskipun hanya dua atau tiga ayat, kemudian
berkomentar, “…mudah-mudahan aku tidak tergolong orang-orang yang
meninggalkan Al-Qur’an”.
Rasulullah
saw bersabda:
مَنْ
قَرَأَ آيَةً مِنْ كِتِابِ اللهِ فَلَهُ بِكُلِّ حَرْفٍ عَشْرُ حَسَنَاتٍ. وَمَنْ
يَسْتَمِعُ لَهَا كَانَتْ لَهُ نُوْرًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ.
“Barangsiapa
membaca satu ayat Al-Qur’an, baginya pahala sepuluh kebaikan dalam setiap
huruf. Dan barangsiapa yang
mendengarkan, baginya cahaya di hari Kiamat.”
Para huffazh (penghafal
Al-Qur’an) dianggap membuat suatu kesalahan bila dia lupa (tidak memperhatikannya).
Oleh karena itu, kita harus memperbanyak membaca Al-Qur’an serta membiasakannya
secara rutin dan berkesinambungan. Ini dalam rangka mengikuti jejak para
sahabat, para ulama shalafush-shalih, sekaligus menaati perintah Allah
dan Rasul-Nya untuk membaca dan memahami isi kandungannya.
Ketiga: Meperhatikan
etika dan kaidah membaca dan men-tadabbur-i (memahami dan menghayati)
Al-Qur’an. Rasulullah saw bersabda:
إِنَّ
هَذَا الْقُرْآنَ نُزِلَ بِحُزْنٍ. فَإِنْ قَرَأْ تُمُوْهُ فَابْكُوْا فَإِنْ لَمْ
تَبْكُوْا فَتَبَاكَوْا.
“Sesungguhnya
Al-Qur’an diturunkan dalam keheningan. Maka menangislah dikala membacanya. Bila
tidak bisa, maka berusahalah menangis-nangiskannya”.
Hadits
ini mengharuskan adanya usaha ke arah penghayatan Al-Qur’an dan menjaga tipu
daya setan yang selalu berusaha memalingkan manusia dari kesukaan tadabbur
Al-Qur’an. Meskipun baru sampai pada taraf oral, kita dituntut untuk terus
membaca, sehingga Al-Qur’an benar-benar membekas dalam kalbu.
Suatu
malam, ketika kebanyakan manusia tengah terlelap dalam tidurnya, khalifah Umar bin Khattab sedang melakukan hirasah
(ronda), beliau mendengar seseorang tengah membaca Al-Qur’an dengan syahdu:
“Dengan
menyebut Asma’ Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Demi bukit. Demi Kitab
yang tertulis, pada lembaran yang terbuka. Demi Baitul Ma’mur. Demi atap
(langit) yang ditinggikan. Demi laut yang menggelora. Sungguh adzab Rabb-mu
pasti dan nyata akan datang!”(QS. 52:1-7).
Ketika mendengar ayat ini dibaca, tiba-tiba beliau
seperti menggigil dan berkata, “Sungguh, ini adalah sebuah persaksian
(sumpah) yang benar. Demi Rabbnya Ka’bah……”, setelah itu beliau terjatuh
pingsan. Salah seorang sahabat yang sempat menyaksikan kejadian tersebut,
segera mengangkat dan membawa masuk ke rumahnya. Tiga puluh hari beliau di sana
karena sakit. Menjadi kebiasaan Umar bin ‘Abdul ‘Aziz selesai shalat Isya’
beliau mengambil air wudhu kemudian shalat dan membaca ayat :
I “(Kepada
malaikat diperintahkan): ‘Kumpulkan orang-orang zhalim beserta teman sejawat
mereka dan sesembahan yang selalu mereka sembah selain Allah; maka tunjukkanlah
mereka jalan ke neraka. Dan tahanlah mereka, karena sesungguhnya mereka akan
ditanya’.” (QS. 37:22-24).
Beliau
selalu mengulang ayat: “waqifuuhum innahum mas’uuluun” (Dan tahanlah mereka, karena sesungguhnya
mereka akan ditanya). Demikian dilakukan sampai datang azan subuh.
Al-Qur’an
mampu meluluhkan hati orang-orang kafir, padahal mereka orang yang paling jauh
dari Al-Qur’an. Utbah bin Rabah misalnya, dia orang kafir Quraisy, ketika
mendengar bacaan Al-Qur’an dari Rasulullah saw, dia berkomentar: “Sesungguhnya
ayat ini mengandung kelezatan, patut dibaca, sisi atas berbuah, sisi bawah
lebat; ia bukan sekedar ucapan manusia”. Raja Najasi beserta rakyatnya
ketika mendengarkan ayat Al-Qur’an yang dibacakan oleh Ja’far bin Abu Thalib,
berlinanglah air mata mereka.
Kalau
orang kafir yang jauh dari Al-Qur’an saja sedemikian tanggapnya, bagaimana
dengan kita? Dan bagaimana reaksi orang mukmin ketika membaca ayat berikut ini:
“Allah
telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al-Qur’an yang serupa (mutu
ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang
takut kepada Tuhan-Nya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka manakala
mengingat kalam Allah. Itulah petunjuk Allah. Dengan Kitab itu Dia menunjukkan
siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang disesatkan Allah, niscaya tidak
ada petunjuk (hidayah) baginya”. (QS. 39:23).
Keempat.
Setelah meyakini Al-Qur’an satu-satunya penyelamat dan pengatur kehidupan
manusia, kewajiban berikutnya adalah pengamalan dan pengoperasionalannya. Dalam
hal ini, Al-Qur’an mengandung seperangkat hukum implementatif, yang dapat
diklasifikasi menjadi dua bagian:
- Hukum-hukum individual. Diorientasikan pada objek individu.
Misalnya: shalat, shaum, zakat, haji, taubat, istighfar, berakhlak, dan
lain-lain. Namun, hukum-hukum ini juga mempunyai kaitan dengan objek
social yang harus diselesaikan oleh individu. Oleh sebab itu, di dalam
membaca Al-Qur’an seyogyanya ada perhatian pula terhadap isyarat
hukum-hukumnya. Misalnya bagi orang yang belum melakukan shalat, dia harus
melakukannya setelah membaca ayat: “Aqiimush-shalah” (dirikanlah
shalat). Ketika dia membaca ayat: “Walaa tabkhasuu an-Naasa
asyyaa’ahum” (jangan kau kurangi seluruh apa yang menjadi
hak-haknya), maka dia harus memberikan hak-hak mereka. Sehingga tidak
ada praktek penghisapan dan manipulasi. Haram atau halal sudah jelas dalam
Al-Qur’an.
- Hukum-hukum social. Diorientasikan pada masalah-masalah yang
berkaitan dengan wewenang pemerintah, misalnya hukum pidana dan jihad.
Negara harus melakukan semua tugas dan kepentingan social. Bila tidak,
maka pemerintah bertanggung jawab terhadap Allah swt.dan rakyat mempunyai
hak otonom menuntut pelaksanaan hukum-hukum di atas. Islam tidak kenal
ampun pada tanggung jawab yang telah dibebankan kepada manusia. Apakah hal
ini telah kita amalkan?
Wallahu
a’lam bish-shawab.
Belum ada tanggapan untuk "Kehebatan Al-Qur'an"
Posting Komentar