|
Dzikrul
maut berarti mengingat kematian. Menghadapi kemewahan dunia dan
berkecimpung dalam kemegahannya bisa membuat orang tenggelam dalam
kemewahan dan kemegahan itu, sehingga membuat yang bersangkutan
lupa akan kematian. Orang yang termasuk kelompok ini menjadi orang
yang membenci kematian dan kalau dinasehati dia tidak mau mendengar
nasehat itu, padahal kematian adalah suatu hal yang pasti dan tidak
dapat dielakkan oleh siapapun juga. Kelompok inilah yang disitir
oleh Allah SWT dalam firman-Nya, Artinya : Katakanlah, “Sesungguhnya kematian yang kamu lari padanya,
maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu. Kemudian kamu
akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan
yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu
kerjakan.” (Q.S. Al Jumu’ah 62 : 8).
Maut
atau mati adalah terpisahnya roh dari jasad, terpisahnya jiwa dari
badan jasmani. Ada tiga kata yang searti, yaitu maut, ajal dan
wafat. Kata-kata maut terdapat dalam Al Qur’an antara lain surat An
Nisa’ 4 : 18, 78 dan 100. Kata-kata ajal terdapat dalam Al Qur’an
antara lain surat Yunus 10 : 49 dan surat An Najm 53 : 44. Pada hakikatnya maut adalah akhir dari kehidupan dan sekaligus awal dari
kehidupan yang baru. Oleh sebab itu maut bukanlah kesudahan,
kehancuran atau kemusnahan. Maut adalah suatu peralihan dari suatu
alam dunia ke alam dunia yang lain, peralihan dari suatu keadaan kedalam
keadaan yang lain, yang merupakan tempat kehidupan manusia akan
berlanjut. Oleh sebab itu pulalah manusia-manusia kafir atau
manusia-manusia maksiat dan ingkar, takut dan benci kepada
kematian, sebab kehidupan setelah mati merupakan tempat pembalasan dari
perbuatan-perbuatan di atas dunia. Bagi orang yang tinggi kualitas
Iman dan Takwanya, maut merupakan harapan yang indah untuk memulai
hidup yang hakiki, yaitu kehidupan yang abadi. Orang yang tinggi
kualitas Iman dan Takwanya selalu mengingat kematian dan senantiasa
mempersiapkan bekal untuk kehidupan sesudah mati. Banyak sekali
dalil naqli, Al Qur’an maupun Al Hadis yang menjelaskan keutamaan
mengingat kematian.
Sabda Rasulullah SAW,
Artinya
: Perbanyaklah mengingat-ingat sesuatu yang melenyapkan segala
macam kelezatan (kematian) (H.R. At Turmuzi, An Nasa’i dan Ibnu
Majah)..
Banyak mengingat kematian dapat melebur dosa dan memotivasi seseorang menjadi zuhud dunia.
Sabda Rasulullah SAW,
Artinya
: Perbanyaklah mengingat kematian, karena sesungguhnya mengingat
kematian itu dapat menghapuskan dosa-dosa dan menjadikan zuhud
terhadap dunia (H.R. Ibnu Abidunya).
Orang
yang bijaksana dan cerdik, adalah orang yang paling banyak
mengingat kematian, dan banyak mempersiapkan diri menghadapi
kematian itu. Mereka berusaha keras melakukan persiapan untuk
menghadapi kematian itu. Mereka itulah orang-orang yang paling cerdik
dan mereka pergi ke alam baka nanti dengan membawa kemuliaan dunia
dan kehormatan akhirat (H.R. Ibnu Majah dan Ibnu Abidunya).
Dalam kajian tasawuf roh itu tidak mati, dan yang mati adalah jasad.
Firman Allah SWT,
Artinya
: Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di
jalan Allah, (bahwa mereka itu) mati, bahkan (sebenarnya) mereka
itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya. (Q.S. Al Baqarah 2 :
154).
Roh
manusia akan tetap hidup dan mempunyai suatu kedudukan hayati yang
lebih tinggi daripada unsur jasad dan material. Roh yang
kedudukannya di alam cakrawala lebih tinggi itu, tetap memiliki
daya tangkap, karenanya dia mendengar ucapan salam dari penziarah yang
mengucapkan salam kepadanya, melihat para penziarah yang berziarah
kepadanya. Roh juga dapat merasakan kelezatan nikmat atau
penderitaan siksa. Roh adalah pangkal kehidupan, dan karenanya jasmani
tanpa roh tidak berarti. Roh berasal dari Allah dan akan kembali
kepada-Nya. Roh adalah masalah ghaib, misterius bagi manusia dan
tidak dapat diketahui hakikatnya.
Firman Allah SWT,
Artinya
: Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh, katakanlah, “Roh itu
termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan,
melainkan sedikit.” (Q.S. Al Isra’ 17 : 85).
Maut
atau mati adalah masalah tugas suci yang ditetapkan oleh Allah
SWT, dan karenanya dilarang orang menemui maut dengan cara yang
salah, seperti bunuh diri atau membunuh orang lain, yang merupakan
perbuatan terkutuk dan dosa besar. Begitu juga bercita-cita mati adalah
perbuatan yang tidak terpuji. Maut atau mati adalah urusan Tuhan,dan karenanya tidak dibenarkan kita
berputus asa, sebab pada hakikatnya Allah menciptakan hidup dan
mati adalah untuk menguji manusia, siapa di antara mereka yang
paling banyak dan paling baik amalnya.
Firman Allah SWT :
Artinya
: Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu siapa di
antara kamu yang lebih baik amalnya, dan Dia Maha Perkasa lagi
Maha Pengampun. (Q.S. Al Mulk 67 : 2).
Dalam
suatu hadis riwayat Tarmizi, Rasulullah SAW bersabda yang artinya,
“Tidak boleh di antara kamu mencita-citakan mati, karena bala yang
menimpa. Andaikata ada bala yang menimpa, hendaklah yang
bersangkutan berdo’a, “Ya Allah, hidupkanlah aku sekiranya hidup itu
lebih baik bagiku dan matikanlah aku kalau mati itu lebih baik
untukku”.
Manusia hanya mengalami mati satu kali saja, yaitu di alam dunia yang
fana. Mulai dari alam barzah, alam mahsyar sampai dengan alam
akhirat manusia tidak lagi akan mengalami mati.
Firman Allah SWT,
Artinya
: Mereka tidak akan merasakan mati di sana kecuali mati di dunia.
Dan Allah memelihara mereka dari azab neraka. (Q.S. Ad Dukhan 44 :
56)
.
Bagi orang yang tinggi kualitas iman dan takwanya, kematian merupakan
hadiah dan terbukanya pintu rahmat. Bagi mereka, dunia merupakan
penderitaan, karena dia harus mengendalikan nafsu syahwatnya dan
menolak ajakan-ajakan syetannya. Dengan kematian, bagi mereka
terlepaslah dia dari belenggu siksaan ini, dan terbukalah pintu
rahmat yang abadi baginya.
Sabda Rasulullah SAW :
Artinya : Hadiah bagi orang mu’min adalah kematian (H.R. Ibnu Abidunya).
Sabda Rasulullah SAW :
Artinya : Kematian adalah penghapus dosa bagi setiap orang muslim (H.R. Abu Nu’aim, Al Baihaqi dan Al Khatib). Sumber: https://salafytobat.wordpress.com/2008/07/01/dzikrul-maut/
|
Belum ada tanggapan untuk " "
Posting Komentar